Rasanya tak sanggup kubuka mata saat Clay memberiku komando untuk bangun dari tidurku. Cahaya yang begitu menyilaukan membuat aku kesulitan melihat apa yang ada di hadapanku.
Aku telah sampai di Silver City, sebuah kota masa depan yang diimpikan sejak sekian dasawarsa. Proyek ini telah berhasil. Dan setelah perjalanan panjang yang membuatku tertidur begitu lama, akhirnya aku menjejakkan kaki di kota ini.
Gedung-gedung dengan
gaya arsitektur minimalis dinamis menjulang tinggi berdampingan dengan
sebuah taman kota yang didesain apik. Kendaraan berlalu lalang dengan
teratur tanpa kemacetan. Tak ada sampah berserakan karena ada
robot-robot yang bertugas 24 jam menjaga kebersihan. Lampu-lampu di tiap
penjuru memancarkan cahaya yang mengenyahkan gulita.
Aku berdecak kagum, impian para petinggi telah tercapai. Tak sia-sia mereka meninggalkan desa kami dan membangun peradaban baru di sini. Tempat yang dulunya hanya berupa hamparan tanah tak terurus kini menjadi kota yang gemerlap.
Clay menuntunku menuju sebuah gedung yang paling besar di antara yang lain. Ia memang sudah lebih dulu berada di sini. Setelah aku setuju untuk meninggalkan keluargaku, akhirnya aku pun mengikutinya untuk menghuni kota impian ini.
"Clay, izinkan aku menelpon ibuku dulu. Kurasa ia sedang menantikan kabarku. Aku akan mengatakan padanya kalau aku baik-baik saja, tidak seperti yang mereka khawatirkan," ujarku.
Clay bergeming. Tak ada ekspresi apa pun. Sejak menghuni kota ini, ia memang menjadi agak pendiam.
Ia mengambil ponselku dan melakukan hal yang tidak kuduga. Membantingnya. Aku membeliak.
"Hei, apa yang kau lakukan?" teriakku dengan kencang.
Aku menggapai tubuhnya, menarik saku di kemejanya, berharap kutemukan ponsel di sana. Namun aku terkejut, saat tanganku tak sengaja merobek bajunya, kulihat seonggok mesin bersarang di dadanya. Aku terkesiap. Spontan kututup mulutku, tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Tak perlu kaget. Kau yang selanjutnya," ucapnya singkat sambil menyeretku dengan paksa, tak peduli seberapa kencang aku berteriak.
Beberapa orang keluar dari sebuah ruangan. Mereka menjagalku bersamaan dengan suara yang berasal dari pengeras di sudut ruangan.
"On Process. Perakitan Robot Silver C230 akan segera dilakukan."
Aku berdecak kagum, impian para petinggi telah tercapai. Tak sia-sia mereka meninggalkan desa kami dan membangun peradaban baru di sini. Tempat yang dulunya hanya berupa hamparan tanah tak terurus kini menjadi kota yang gemerlap.
Clay menuntunku menuju sebuah gedung yang paling besar di antara yang lain. Ia memang sudah lebih dulu berada di sini. Setelah aku setuju untuk meninggalkan keluargaku, akhirnya aku pun mengikutinya untuk menghuni kota impian ini.
"Clay, izinkan aku menelpon ibuku dulu. Kurasa ia sedang menantikan kabarku. Aku akan mengatakan padanya kalau aku baik-baik saja, tidak seperti yang mereka khawatirkan," ujarku.
Clay bergeming. Tak ada ekspresi apa pun. Sejak menghuni kota ini, ia memang menjadi agak pendiam.
Ia mengambil ponselku dan melakukan hal yang tidak kuduga. Membantingnya. Aku membeliak.
"Hei, apa yang kau lakukan?" teriakku dengan kencang.
Aku menggapai tubuhnya, menarik saku di kemejanya, berharap kutemukan ponsel di sana. Namun aku terkejut, saat tanganku tak sengaja merobek bajunya, kulihat seonggok mesin bersarang di dadanya. Aku terkesiap. Spontan kututup mulutku, tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Tak perlu kaget. Kau yang selanjutnya," ucapnya singkat sambil menyeretku dengan paksa, tak peduli seberapa kencang aku berteriak.
Beberapa orang keluar dari sebuah ruangan. Mereka menjagalku bersamaan dengan suara yang berasal dari pengeras di sudut ruangan.
"On Process. Perakitan Robot Silver C230 akan segera dilakukan."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar