Selasa, 14 November 2017

Disappear


Aku menghela nafas panjang. Ini kali kesekian Mas Hans, suamiku, membuatku kehabisan kata saat harus menjaawab pertanyaan ibu.
“Jam segini belum pulang? Mampir kemana dia? Istri belum lama melahirkan kok sikapnya kayak gitu.” Ibu mengomel panjang lebar. Aku hanya terdiam, tak tahu mesti berkata apa. Semakin aku membela suamiku, akan semakin panjang rentetan omelan ibu.
Bukannya aku tidak tahu mengapa suamiku bersikap seperti ini. Bukannya aku tidak tahu kemana saja dirinya sebelum pulang ke sini. Aku tahu dia di mana. Sepulang kerja, ia selalu memilih untuk mampir ke rumah orang tuanya dulu, menghabiskan waktu berjam-jam di sana, dan baru pulang saat malam menjelang.
“Mau sampai kapan dia kayak anak kecil gitu? Sukanya kok ngempeng sama ibunya dulu. Memangnya dia lupa kalau sudah punya anak istri?” Kepalaku semakin pening. Rasa sakit pasca melahirkan masih kurasakan. Jam tidur yang kacau di malam hari dan segala adaptasi sebagai ibu baru membuat masalah yang kuhadapi semakin terasa runyam.
 “Karin, apa tidak ada hal lain yang bisa kamu lakukan kecuali diam?” Ibu masih menyerangku, menyudutkanku pada sisi di mana aku tak bisa berkelit. Aku tahu, ia selalu berusaha membuatku menyesal. Ya, menyesal memilih Mas Hans sebagai suami.
“Ibu, tolong jangan membuat Karin terpojok.” Dari sekian kata berontak yang ingin kukatakan, hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku. Aku selalu tak sanggup berdebat dengan Ibu.
“Ah, terserah. Kamu hanya perlu bersikap tegas pada suamimu. Itu saja.” Ibu beralih dari kamarku. Kurasa ia pun sangat lelah. Aku tak dapat memungkiri, suamiku seharusnya tidak bersikap seperti ini.
Deru motor terdengar dari luar rumah. Suara motor Mas Hans. Ia melepas sepatu dan meletakkan tas kerjanya, menghampiriku kemudian mencium keningku perlahan. Ia lalu menatap buah hatinya, mengangkatnya dari tempat tidur dan membopongnya dengan penuh kasih sayang.
Mas Hans sebenarnya adalah lelaki penyayang. Dia tak segan membantuku mengurus si kecil, bergantian denganku agar aku bisa sedikit beristrahat. Ia bahkan terampil mengganti popok dan menggendong dengan selendang.
Satu hal yang selalu menyulut perdebatan di antara kami adalah masalah tempat tinggal. Ia enggan tinggal serumah dengan ibu. Selain karena tak suka dengan karakter ibu yang meledak-ledak, nyinyir dan emosional, Mas Hans ingin agar aku tinggal dengan orang tuanya.
“Mas, kenapa gak langsung pulang ke sini sih? Kenapa mesti nunggu malem dulu.” Aku mencoba membuka pembicaraan dengan suamiku. Masalah ini tak bisa dibiarkan terus.
“Kamu gak perlu nanya alasanku apa. Kamu udah tahu. Aku males dengerin orang ngomel. Pulang kerja itu capek,” jawabnya dengan nada datar.
“Ibu gak bakalan ngomel kalau Mas gak pulang kemaleman.” Aku berusaha memberikan penjelasan.
“Kalau aku pulang awal, pasti ada aja yang bikin dia ngomel. Kamu tahu aku gak bisa ngadepin yang begituan. Jadi aku pilih menghindar aja,” ujarnya mempertahankan pendirian.
“Tapi Mas, tolong ngertiin aku. Aku jadi serba salah di hadapan ibu. Aku yang jadi sasaran. Mas introspeksi deh, kalau Mas bisa bersikap baik, ibu gak bakalan kayak gitu.” Suaraku mulai bergetar, emosiku mulai tak terkendali.
“Kalau kamu masih pengen sama-sama aku, yuk kita pindah ke rumah orang tuaku. Kamu apa gak kasihan sih kalau setiap hari aku kecapekan. Jarak ke tempat kerja makin jauh kalo aku tinggal di sini.” Ia mulai mengungkit keinginannya.
“Ibu sendirian Mas, aku nggak tega ninggalin Ibu.” Aku mulai terisak.
“Ada Dina adikmu. Ibu gak sendiri kok.” Ini yang tidak kusuka dari Mas Hans, ia sulit berempati pada seseorang yang tidak disukainya.
“Baik, kamu boleh tinggal di sini. Tapi aku gak tahan. Mulai besok aku tinggal di rumah orang tuaku lagi. Sebulan sekali aku bakalan nengokin anak kita.” Ucapan Mas Hans benar-benar di luar dugaanku. Lyla, putri kami menggeliat. Matanya terbuka dan mulai menangis. Sepertinya ia tahu ayah ibunya sedang bertengkar.
Mas Hans memberikan Lyla padaku sebelum berujar “Silakan kamu putuskan, ikut aku atau ibumu.” Aku terhenyak. Aku tak menyangka ia akan memberikan pilihan yang sangat sulit untukku. Ia mengambil ranselnya dan membuka lemari. Memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tasnya. Aku menggendong Lyla sambil memberinya ASI. Kucoba meraih tas Mas Hans agar ia menghentikan aksinya.
“Apa tidak ada solusi lain yang bisa kita bicarakan Mas? Apa harus seperti ini cara Mas menyelesaikan masalah kita?” Kalimatku mulai tak terdengar dengan jelas. Aku berbicara sambil menangis.
Pintu belakang rumah berderit, seseorang masuk. Ibu. Beliau sepertinya mendengar pertengkaran kami. Ibu menghampiriku, mengambil Lyla dariku.
“Biarin aja kalau suamimu mau pergi. Silakan. Ibu juga masih bisa menghidupi anak dan cucu ibu. Jangan mentang-mentang sudah menafkahi lalu berhak memaksakan kehendak. Toh kamu juga cuma diajak tinggal sama orang tuanya, belum punya rumah sendiri.” Sempurna. Kalimat ibu semakin memperkeruh keadaan. Lyla terus menangis. Aku terduduk di tepi tempat tidur. Badanku limbung.
Mas Hans mendekatiku. Ia menatapku nyalang.
“Kau yang putuskan sekarang. Seorang istri seharusnya patuh pada suaminya. Bukan ibunya. Kalau kamu mau ikut denganku, cepat kemasi barangmu. Kalau tidak, besok jangan harap aku akan pulang ke sini lagi.” Aku menutup wajahku dengan kedua tangan, menenggelamkan tangisku. Aku berharap bisa lari dari semua ini. Lari ke tempat yang sangat jauh, hingga tak ada yang bisa menemukanku. Entah ke mana.
===========
Semalaman aku tidak bisa tidur. Mataku sangat sulit terpejam. Mas Hans tidur di ruang tamu, ibu di kamarnya. Aku yakin mereka juga sama gelisahnya denganku.
 Ingatanku mengembara. Ibu berjuang sendiri membesarkan aku dan adikku Dina. Ayahku pergi meninggalkan kami sejak aku masih kecil. Itulah mengapa bagiku begitu berat meninggalkan ibu. Aku sadar aku harus mematuhi suamiku, namun salahkah jika aku berharap Mas Hans bisa memahami posisiku ini? Inilah yang disesalkan ibu, mengapa aku memilih Mas Hans.
Kepalaku terasa sangat berat. Mataku sembab karena tangisku semalam. Kulihat Mas Hans terpekur di ruang tamu. Ia terlihat sangat letih.
“Mas, sudah jam enam. Cepet siap-siap nanti kesiangan berangkat kerja.” Aku memberanikan diri menyapanya duluan, pertengkaran kami semalam memang melelahkan, tapi aku tak berniat mendiamkannya.
Mas Hans bergeming. Ia seolah tak mendengarku. Aku tahu ia masih kalut karena kejadian semalam. Ia pasti enggan berbicara denganku. Biasanya setelah dua hari ia baru mau membuka pembicaraan.
Pintu kamar ibu terbuka, aku memasukinya. Ibu sedang menyisir rambutnya yang mulai memutih. Menggelungnya perlahan dan mengikatnya dengan karet gelang. Ibu terlihat lebih tua dari usianya. Kehidupan yang keras telah membentuknya menjadi pribadi yang labil, kuat sekaligus rapuh, kata-kata yang keluar darinya sering terdengar menyakitkan, menutup sisi hati yang sebenarnya lembut.
“Bu, mau dibikinin teh?” Ibu tidak mengalihkan pandangannya dari cermin. Aku menepuk bahunya. Ada sesuatu yang janggal. Aku tidak dapat menyentuh ibu. Berulang kali aku memanggilnya, ibu tidak menyahut. Aku berdiri tepat di hadapannya namun ia tidak melihatku! Aku menangis. Apa yang terjadi? Aku berlari menuju ruang tamu. Mas Hans tak lagi di sana. Aku beralih ke kamar, ia sedang melepas baju Lyla, hendak memandikannya. Aku panik. Kuguncang bahunya, tapi sama seperti ibu, ia pun tak tersentuh olehku.
“Mas, Mas Hans, Mas bisa denger aku? Maaaasss!!” jeritanku tak tertahan, aku meraung sejadi-jadinya. Bergantian kupanggil ibu dan Mas Hans. Tak ada yang menyahut. Tak ada yang melihatku. Kucoba mendekati si kecil Lyla. Kubelai dan kuciumi wajahnya, bayi mungil itu tersenyum, namun aku tak bisa menggendongnya.
Aku mengusap air mataku yang berurai. Memandang mereka tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku sangat merindukan anakku. Tubuh mungilnya tak dapat kurengkuh dalam pelukanku. Saat ia menangis, aku hanya bisa ikut menangis.
Aku terpuruk di sudut kamar. Rasanya sudah berhari-hari kuhabiskan waktu di sudut kamar. Melihat penghuni rumah ini berlalu lalang tanpa menyadari keberadaanku. Mereka sesekali bercakap saat mengurusi Lyla. Saat kucoba mendekati Dina adikku, hal yang sama pun terjadi. Ia tak dapat melihatku atau mendengar suaraku.
“Saya sudah mencari Karin ke mana mana, Bu. Semua teman dekatnya saya datangi, alamat rumah seluruh saudara yang ibu kasih ke saya juga saya kunjungi. Karin gak ada di sana. Polisi juga belum memberikan kabar apa-apa.” Suamiku mengurut pelipisnya.
Ibu menangis.
“Kamu boleh marah pada kami, Nduk. Tapi tidak dengan cara pergi seperti ini,” ratap ibu kemudian. Aku melihat penyesalan di mata kedua orang yang amat kusayangi. Aku tergugu lagi. Berada di antara pilihan yang sulit memang membuatku ingin lari dari rasa sesak yang menghimpitku. Aku memang ingin pergi jauh. Namun ternyata menghilang dari hadapan mereka bukanlah penyelesaian atas masalah yang terjadi. Menghilang bahkan membuat semuanya semakin rumit.
Aku memejamkan mata, memandang mereka yang tak dapat melihatku hanya membuat dadaku terasa sesak.
“Aku di sini, Mas. Aku tidak ke mana-mana, Bu. Aku tak pernah pergi dari kalian,” ucapku pasrah, tak lagi berharap mereka mendengarku. Lelah yang teramat sangat mendera tubuhku.
“Bu! Ibu! Lihat ini Bu!” teriak Dina dari dalam kamarnya. Ia tergopoh-gopoh menghampiri ibu. Mas Hans turut mendekat. Sesaat kemudian Dina memperlihatkan sebuah foto dalam ponselnya.
SESOSOK MAYAT DITEMUKAN MENGAMBANG DI HILIR SUNGAI
Aku terkesiap melihat foto itu.
 “Ini kan, b-baju yang terakhir dipakai M-mbak Karin, Bu,” ujar Dina terbata-bata. Tangis mereka pun pecah, bersamaan dengan jeritanku yang tak kan pernah lagi terdengar, oleh siapa pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gurindam

kalau kau hendak selamat  bekali diri dengan salihat jika dirimu sedang seteru ingat lidah setajam sembilu andai amarah mu...