Aku
menghela nafas panjang. Ini kali kesekian Mas Hans, suamiku, membuatku
kehabisan kata saat harus menjaawab pertanyaan ibu.
“Jam
segini belum pulang? Mampir kemana dia? Istri belum lama melahirkan kok
sikapnya kayak gitu.” Ibu mengomel panjang lebar. Aku hanya terdiam, tak tahu
mesti berkata apa. Semakin aku membela suamiku, akan semakin panjang rentetan
omelan ibu.
Bukannya
aku tidak tahu mengapa suamiku bersikap seperti ini. Bukannya aku tidak tahu
kemana saja dirinya sebelum pulang ke sini. Aku tahu dia di mana. Sepulang
kerja, ia selalu memilih untuk mampir ke rumah orang tuanya dulu, menghabiskan
waktu berjam-jam di sana, dan baru pulang saat malam menjelang.
“Mau
sampai kapan dia kayak anak kecil gitu? Sukanya kok ngempeng sama ibunya dulu.
Memangnya dia lupa kalau sudah punya anak istri?” Kepalaku semakin pening. Rasa
sakit pasca melahirkan masih kurasakan. Jam tidur yang kacau di malam hari dan
segala adaptasi sebagai ibu baru membuat masalah yang kuhadapi semakin terasa
runyam.
“Karin, apa tidak ada hal lain yang bisa kamu
lakukan kecuali diam?” Ibu masih menyerangku, menyudutkanku pada sisi di mana
aku tak bisa berkelit. Aku tahu, ia selalu berusaha membuatku menyesal. Ya,
menyesal memilih Mas Hans sebagai suami.
“Ibu,
tolong jangan membuat Karin terpojok.” Dari sekian kata berontak yang ingin
kukatakan, hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku. Aku selalu tak sanggup
berdebat dengan Ibu.
“Ah,
terserah. Kamu hanya perlu bersikap tegas pada suamimu. Itu saja.” Ibu beralih
dari kamarku. Kurasa ia pun sangat lelah. Aku tak dapat memungkiri, suamiku
seharusnya tidak bersikap seperti ini.
Deru
motor terdengar dari luar rumah. Suara motor Mas Hans. Ia melepas sepatu dan
meletakkan tas kerjanya, menghampiriku kemudian mencium keningku perlahan. Ia
lalu menatap buah hatinya, mengangkatnya dari tempat tidur dan membopongnya
dengan penuh kasih sayang.
Mas
Hans sebenarnya adalah lelaki penyayang. Dia tak segan membantuku mengurus si
kecil, bergantian denganku agar aku bisa sedikit beristrahat. Ia bahkan
terampil mengganti popok dan menggendong dengan selendang.
Satu
hal yang selalu menyulut perdebatan di antara kami adalah masalah tempat
tinggal. Ia enggan tinggal serumah dengan ibu. Selain karena tak suka dengan
karakter ibu yang meledak-ledak, nyinyir dan emosional, Mas Hans ingin agar aku
tinggal dengan orang tuanya.
“Mas,
kenapa gak langsung pulang ke sini sih? Kenapa mesti nunggu malem dulu.” Aku
mencoba membuka pembicaraan dengan suamiku. Masalah ini tak bisa dibiarkan
terus.
“Kamu
gak perlu nanya alasanku apa. Kamu udah tahu. Aku males dengerin orang ngomel.
Pulang kerja itu capek,” jawabnya dengan nada datar.
“Ibu
gak bakalan ngomel kalau Mas gak pulang kemaleman.” Aku berusaha memberikan
penjelasan.
“Kalau
aku pulang awal, pasti ada aja yang bikin dia ngomel. Kamu tahu aku gak bisa
ngadepin yang begituan. Jadi aku pilih menghindar aja,” ujarnya mempertahankan
pendirian.
“Tapi
Mas, tolong ngertiin aku. Aku jadi serba salah di hadapan ibu. Aku yang jadi
sasaran. Mas introspeksi deh, kalau Mas bisa bersikap baik, ibu gak bakalan
kayak gitu.” Suaraku mulai bergetar, emosiku mulai tak terkendali.
“Kalau
kamu masih pengen sama-sama aku, yuk kita pindah ke rumah orang tuaku. Kamu apa
gak kasihan sih kalau setiap hari aku kecapekan. Jarak ke tempat kerja makin
jauh kalo aku tinggal di sini.” Ia mulai mengungkit keinginannya.
“Ibu
sendirian Mas, aku nggak tega ninggalin Ibu.” Aku mulai terisak.
“Ada
Dina adikmu. Ibu gak sendiri kok.” Ini yang tidak kusuka dari Mas Hans, ia sulit
berempati pada seseorang yang tidak disukainya.
“Baik,
kamu boleh tinggal di sini. Tapi aku gak tahan. Mulai besok aku tinggal di
rumah orang tuaku lagi. Sebulan sekali aku bakalan nengokin anak kita.” Ucapan
Mas Hans benar-benar di luar dugaanku. Lyla, putri kami menggeliat. Matanya
terbuka dan mulai menangis. Sepertinya ia tahu ayah ibunya sedang bertengkar.
Mas
Hans memberikan Lyla padaku sebelum berujar “Silakan kamu putuskan, ikut aku
atau ibumu.” Aku terhenyak. Aku tak menyangka ia akan memberikan pilihan yang
sangat sulit untukku. Ia mengambil ranselnya dan membuka lemari. Memasukkan
beberapa potong pakaian ke dalam tasnya. Aku menggendong Lyla sambil memberinya
ASI. Kucoba meraih tas Mas Hans agar ia menghentikan aksinya.
“Apa
tidak ada solusi lain yang bisa kita bicarakan Mas? Apa harus seperti ini cara
Mas menyelesaikan masalah kita?” Kalimatku mulai tak terdengar dengan jelas.
Aku berbicara sambil menangis.
Pintu
belakang rumah berderit, seseorang masuk. Ibu. Beliau sepertinya mendengar
pertengkaran kami. Ibu menghampiriku, mengambil Lyla dariku.
“Biarin
aja kalau suamimu mau pergi. Silakan. Ibu juga masih bisa menghidupi anak dan
cucu ibu. Jangan mentang-mentang sudah menafkahi lalu berhak memaksakan
kehendak. Toh kamu juga cuma diajak tinggal sama orang tuanya, belum punya
rumah sendiri.” Sempurna. Kalimat ibu semakin memperkeruh keadaan. Lyla terus
menangis. Aku terduduk di tepi tempat tidur. Badanku limbung.
Mas
Hans mendekatiku. Ia menatapku nyalang.
“Kau
yang putuskan sekarang. Seorang istri seharusnya patuh pada suaminya. Bukan
ibunya. Kalau kamu mau ikut denganku, cepat kemasi barangmu. Kalau tidak, besok
jangan harap aku akan pulang ke sini lagi.” Aku menutup wajahku dengan kedua
tangan, menenggelamkan tangisku. Aku berharap bisa lari dari semua ini. Lari ke
tempat yang sangat jauh, hingga tak ada yang bisa menemukanku. Entah ke mana.
===========
Semalaman
aku tidak bisa tidur. Mataku sangat sulit terpejam. Mas Hans tidur di ruang
tamu, ibu di kamarnya. Aku yakin mereka juga sama gelisahnya denganku.
Ingatanku mengembara. Ibu berjuang sendiri
membesarkan aku dan adikku Dina. Ayahku pergi meninggalkan kami sejak aku masih
kecil. Itulah mengapa bagiku begitu berat meninggalkan ibu. Aku sadar aku harus
mematuhi suamiku, namun salahkah jika aku berharap Mas Hans bisa memahami
posisiku ini? Inilah yang disesalkan ibu, mengapa aku memilih Mas Hans.
Kepalaku
terasa sangat berat. Mataku sembab karena tangisku semalam. Kulihat Mas Hans
terpekur di ruang tamu. Ia terlihat sangat letih.
“Mas,
sudah jam enam. Cepet siap-siap nanti kesiangan berangkat kerja.” Aku
memberanikan diri menyapanya duluan, pertengkaran kami semalam memang
melelahkan, tapi aku tak berniat mendiamkannya.
Mas
Hans bergeming. Ia seolah tak mendengarku. Aku tahu ia masih kalut karena
kejadian semalam. Ia pasti enggan berbicara denganku. Biasanya setelah dua hari
ia baru mau membuka pembicaraan.
Pintu
kamar ibu terbuka, aku memasukinya. Ibu sedang menyisir rambutnya yang mulai
memutih. Menggelungnya perlahan dan mengikatnya dengan karet gelang. Ibu
terlihat lebih tua dari usianya. Kehidupan yang keras telah membentuknya
menjadi pribadi yang labil, kuat sekaligus rapuh, kata-kata yang keluar darinya
sering terdengar menyakitkan, menutup sisi hati yang sebenarnya lembut.
“Bu,
mau dibikinin teh?” Ibu tidak mengalihkan pandangannya dari cermin. Aku menepuk
bahunya. Ada sesuatu yang janggal. Aku tidak dapat menyentuh ibu. Berulang kali
aku memanggilnya, ibu tidak menyahut. Aku berdiri tepat di hadapannya namun ia
tidak melihatku! Aku menangis. Apa yang terjadi? Aku berlari menuju ruang tamu.
Mas Hans tak lagi di sana. Aku beralih ke kamar, ia sedang melepas baju Lyla,
hendak memandikannya. Aku panik. Kuguncang bahunya, tapi sama seperti ibu, ia
pun tak tersentuh olehku.
“Mas,
Mas Hans, Mas bisa denger aku? Maaaasss!!” jeritanku tak tertahan, aku meraung
sejadi-jadinya. Bergantian kupanggil ibu dan Mas Hans. Tak ada yang menyahut.
Tak ada yang melihatku. Kucoba mendekati si kecil Lyla. Kubelai dan kuciumi wajahnya,
bayi mungil itu tersenyum, namun aku tak bisa menggendongnya.
Aku
mengusap air mataku yang berurai. Memandang mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.
Aku sangat merindukan anakku. Tubuh mungilnya tak dapat kurengkuh dalam
pelukanku. Saat ia menangis, aku hanya bisa ikut menangis.
Aku
terpuruk di sudut kamar. Rasanya sudah berhari-hari kuhabiskan waktu di sudut
kamar. Melihat penghuni rumah ini berlalu lalang tanpa menyadari keberadaanku.
Mereka sesekali bercakap saat mengurusi Lyla. Saat kucoba mendekati Dina
adikku, hal yang sama pun terjadi. Ia tak dapat melihatku atau mendengar
suaraku.
“Saya
sudah mencari Karin ke mana mana, Bu. Semua teman dekatnya saya datangi, alamat
rumah seluruh saudara yang ibu kasih ke saya juga saya kunjungi. Karin gak ada
di sana. Polisi juga belum memberikan kabar apa-apa.” Suamiku mengurut
pelipisnya.
Ibu
menangis.
“Kamu
boleh marah pada kami, Nduk. Tapi tidak dengan cara pergi seperti ini,” ratap
ibu kemudian. Aku melihat penyesalan di mata kedua orang yang amat kusayangi. Aku
tergugu lagi. Berada di antara pilihan yang sulit memang membuatku ingin lari
dari rasa sesak yang menghimpitku. Aku memang ingin pergi jauh. Namun ternyata
menghilang dari hadapan mereka bukanlah penyelesaian atas masalah yang terjadi.
Menghilang bahkan membuat semuanya semakin rumit.
Aku
memejamkan mata, memandang mereka yang tak dapat melihatku hanya membuat dadaku
terasa sesak.
“Aku
di sini, Mas. Aku tidak ke mana-mana, Bu. Aku tak pernah pergi dari kalian,” ucapku
pasrah, tak lagi berharap mereka mendengarku. Lelah yang teramat sangat mendera
tubuhku.
“Bu!
Ibu! Lihat ini Bu!” teriak Dina dari dalam kamarnya. Ia tergopoh-gopoh
menghampiri ibu. Mas Hans turut mendekat. Sesaat kemudian Dina memperlihatkan
sebuah foto dalam ponselnya.
SESOSOK
MAYAT DITEMUKAN MENGAMBANG DI HILIR SUNGAI
Aku
terkesiap melihat foto itu.
“Ini kan, b-baju yang terakhir dipakai M-mbak
Karin, Bu,” ujar Dina terbata-bata. Tangis mereka pun pecah, bersamaan dengan
jeritanku yang tak kan pernah lagi terdengar, oleh siapa pun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar