E.A. Prihasti
Gilang mengurut pelipis.
Kepalanya berdenyut saat ia ingat kembali perkara yang sudah tiga hari ini
membuat tidur tak nyenyak makan pun tak enak. Ibunya ingin agar Gilang dan
istri pindah ke kediamannya, menemani sang ibu yang kini tinggal sendiri
setelah adik perempuan Gilang satu-satunya, mengikuti suami tinggal di
Kalimantan. Sementara itu, Kania istrinya bersikeras tetap tinggal di rumah
yang mereka huni sejak menikah.
Gilang tak ingin membiarkan
ibunya kesepian, namun ia juga tidak bisa egois memaksakan kehendak pada Kania.
Gilang tahu Kania punya alasan kuat untuk menolak keinginan itu. Ia harus
menempuh jarak dua kali lebih jauh ke kantornya jika mereka mesti pindah.
“Kania kan bisa bawa mobil
sendiri, kamu beliin aja. Kalo nyetir sendiri kan enak, bisa memperkirakan
waktu sampai di kantor jam berapa,” ujar ibunya mencoba meyakinkan Gilang
kembali.
“Kania lebih suka naik kendaraan
umum, Bu. Toh nambah mobil juga belum masuk list prioritas kami,” timpal Gilang
dengan sedikit gusar. Ia takut ada kalimat yang akan menyinggung perasaan
ibunya.
“Kamu lebih suka melihat ibu
kesepian ya?” Kalimat ibunya begitu menohok hati Gilang. Ia semakin
kebingungan.
Gilang melepas kacamata, kemudian
menarik selimutnya sampai ke dada. Ia melirik Kania yang masih asyik memandangi
layar gawai dan sesekali tersenyum. Kania paham suaminya sedang galau. Ia
mengalihkan pandangan ke wajah Gilang.
“Masih soal ibu?” tanya Kania
penuh selidik. Suaminya mengangguk.
“Mas bujuk ibu aja biar tinggal
di sini. Kan gak bakalan kesepian lagi. Fero juga bakalan seneng ditemenin
eyangnya.” Kania menawarkan solusi lain.
“Aku dah pernah bilang gitu, tapi
ibu gak mau. Gak tega ninggalin rumah peninggalan bapak.” Gilang terpaku,
seakan menemui jalan buntu.
“Mas sendiri gimana, cenderung
setuju sama pendapat siapa, ibu atau aku. Maksudku, menurut pertimbangan Mas
Gilang, mana yang lebih membuat Mas nyaman? Kita pindah ke rumah ibu, atau ibu
yang pindah ke sini? Mungkin kalau Mas punya opini lain, aku dan ibu bisa
berpikir ulang dengan pendapat masing-masing.”
Kania memberikan ruang bagi Gilang untuk mempertimbangkan masalah ini
dari sisi Gilang sendiri.
Gilang hanya terdiam. Mencoba
mengurai masalah agar segera menjumpai titik temunya. Dia tahu, ibu dan
istrinya tidak berniat menyusahkan. Mereka adalah perempuan yang paling
menyayangi dirinya. Gilang memejamkan mata, berharap besok ia menemui jalan
keluar.
Aroma kopi mengepul dari ruang
makan. Gilang berjalan menghampiri Kania yang sedang menyiapkan sarapan mereka.
Fero juga tengah bersiap berangkat sekolah.
“Nia, soal Ibu aku dah putusin, kita
beli mobil lagi aja ya, buat kamu. Biar kalo kita pindah ke rumah ibu, kamu gak
perlu repot sewa ojek atau taksi online lagi buat ke kantor.” Gilang bicara
dengan hati-hati, berharap Kania menyetujui keputusannya. Membeli mobil baru
awalnya memang bukan prioritas, tapi masalah ini membutuhkan solusi.
Kania menyodorkan segelas kopi
pada Gilang sambil menyahut, “Aku baru mau bilang, Mas. Barusan aku dapet info
dari atasanku, bulan depan aku dimutasi ke kantor cabang dan lokasinya deket
rumah Ibu.”
Gilang hampir tersedak. “Beneran?”
tanyanya seolah tak percaya.
“Gak pusing lagi kan? Aku juga
lega nih. Gak bikin Mas jadi anak durhaka.” Kania tergelak. Gilang memeluk
istrinya. Ia semringah membayangkan senyum bahagia ibunya. Sampai kapan pun ia
tak kan tega membuat ibu dan Kania terluka, dua bidadari yang merupakan anugerah
terbaik dalam hidupnya.
Good, problem solving nya dapet. Dramanya pun keren abis,lanjutkan Nyai 😎👍
BalasHapusPsst baca namamu visu kenapa ak ingetnya sama vicky shu? 😂😂
Hapus