Senin, 02 Oktober 2017

Dua Bidadari

E.A. Prihasti

Gilang mengurut pelipis. Kepalanya berdenyut saat ia ingat kembali perkara yang sudah tiga hari ini membuat tidur tak nyenyak makan pun tak enak. Ibunya ingin agar Gilang dan istri pindah ke kediamannya, menemani sang ibu yang kini tinggal sendiri setelah adik perempuan Gilang satu-satunya, mengikuti suami tinggal di Kalimantan. Sementara itu, Kania istrinya bersikeras tetap tinggal di rumah yang mereka huni sejak menikah.

Gilang tak ingin membiarkan ibunya kesepian, namun ia juga tidak bisa egois memaksakan kehendak pada Kania. Gilang tahu Kania punya alasan kuat untuk menolak keinginan itu. Ia harus menempuh jarak dua kali lebih jauh ke kantornya jika mereka mesti pindah. 

“Kania kan bisa bawa mobil sendiri, kamu beliin aja. Kalo nyetir sendiri kan enak, bisa memperkirakan waktu sampai di kantor jam berapa,” ujar ibunya mencoba meyakinkan Gilang kembali.
“Kania lebih suka naik kendaraan umum, Bu. Toh nambah mobil juga belum masuk list prioritas kami,” timpal Gilang dengan sedikit gusar. Ia takut ada kalimat yang akan menyinggung perasaan ibunya.
“Kamu lebih suka melihat ibu kesepian ya?” Kalimat ibunya begitu menohok hati Gilang. Ia semakin kebingungan.

Gilang melepas kacamata, kemudian menarik selimutnya sampai ke dada. Ia melirik Kania yang masih asyik memandangi layar gawai dan sesekali tersenyum. Kania paham suaminya sedang galau. Ia mengalihkan pandangan ke wajah Gilang.

“Masih soal ibu?” tanya Kania penuh selidik. Suaminya mengangguk.
“Mas bujuk ibu aja biar tinggal di sini. Kan gak bakalan kesepian lagi. Fero juga bakalan seneng ditemenin eyangnya.” Kania menawarkan solusi lain.
“Aku dah pernah bilang gitu, tapi ibu gak mau. Gak tega ninggalin rumah peninggalan bapak.” Gilang terpaku, seakan menemui jalan buntu.
“Mas sendiri gimana, cenderung setuju sama pendapat siapa, ibu atau aku. Maksudku, menurut pertimbangan Mas Gilang, mana yang lebih membuat Mas nyaman? Kita pindah ke rumah ibu, atau ibu yang pindah ke sini? Mungkin kalau Mas punya opini lain, aku dan ibu bisa berpikir ulang dengan pendapat masing-masing.”  Kania memberikan ruang bagi Gilang untuk mempertimbangkan masalah ini dari sisi Gilang sendiri. 

Gilang hanya terdiam. Mencoba mengurai masalah agar segera menjumpai titik temunya. Dia tahu, ibu dan istrinya tidak berniat menyusahkan. Mereka adalah perempuan yang paling menyayangi dirinya. Gilang memejamkan mata, berharap besok ia menemui jalan keluar.

Aroma kopi mengepul dari ruang makan. Gilang berjalan menghampiri Kania yang sedang menyiapkan sarapan mereka. Fero juga tengah bersiap berangkat sekolah.

“Nia, soal Ibu aku dah putusin, kita beli mobil lagi aja ya, buat kamu. Biar kalo kita pindah ke rumah ibu, kamu gak perlu repot sewa ojek atau taksi online lagi buat ke kantor.” Gilang bicara dengan hati-hati, berharap Kania menyetujui keputusannya. Membeli mobil baru awalnya memang bukan prioritas, tapi masalah ini membutuhkan solusi.

Kania menyodorkan segelas kopi pada Gilang sambil menyahut, “Aku baru mau bilang, Mas. Barusan aku dapet info dari atasanku, bulan depan aku dimutasi ke kantor cabang dan lokasinya deket rumah Ibu.”
Gilang hampir tersedak. “Beneran?” tanyanya seolah tak percaya.

“Gak pusing lagi kan? Aku juga lega nih. Gak bikin Mas jadi anak durhaka.” Kania tergelak. Gilang memeluk istrinya. Ia semringah membayangkan senyum bahagia ibunya. Sampai kapan pun ia tak kan tega membuat ibu dan Kania terluka, dua bidadari yang merupakan anugerah terbaik dalam hidupnya.

2 komentar:

  1. Good, problem solving nya dapet. Dramanya pun keren abis,lanjutkan Nyai 😎👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Psst baca namamu visu kenapa ak ingetnya sama vicky shu? 😂😂

      Hapus

Gurindam

kalau kau hendak selamat  bekali diri dengan salihat jika dirimu sedang seteru ingat lidah setajam sembilu andai amarah mu...