Selasa, 31 Oktober 2017

Tentang Memaafkan





Aku pernah berada pada titik paling rapuh dalam hidup. Titik di mana aku merasakan penyesalan yang begitu dalam pada pilihan yang telah aku ambil. Saat itu aku hampir menyerah. Tiap hal yang kulakukan seakan salah di mata siapa pun, termasuk diriku sendiri.

Aku terbangun di pagi hari dengan dada yang sesak, pikiran yang tidak tenang, dan selalu dipenuhi pertanyaan kapan masa buruk itu berakhir.

Aku telah menyakiti orang-orang terdekatku, membuat mereka berkubang dalam amarah yang seolah tak kan surut. bahkan aku pun marah pada diri sendiri, menatap wajahku di cermin dengan penuh kebencian, menatap sesosok banyangan orang dungu di sana.

Ya, langkah yang kuambil jauh dari kata tepat. Aku menuruti ego tanpa berpikir jernih. Kecerobohanku telah menyeretku pada jurang penyesalan yang dalam. Aku bergelimang umpatan. telunjuk-telunjuk mereka menunjuk padaku sembari terucap serapah. 

Aku menangisi nasibku. Menangisi kebodohanku. Menangisi bagian hidup yang ingin kubuang. Tapi hidup harus terus berjalan. Aku takut mati jadi tak mungkin kuakhiri hidupku sendiri. Maka tak ada pilihan lain. Aku terus menapakkan jejakku. melanjutkan kisahku walau dengan noda yang tak kan pernah hilang.

Kubuang segala bentuk penyesalan, kubenahi lakuku, agar tak ada lagi luka di hati siapa saja karen ulahku.
Hidupku memang tak sempurna, namun selalu ada kesempatan buatku untuk memperbaikinya.

Hasil gambar untuk forgive quotes



Minggu, 29 Oktober 2017

Sekar Pembayun

Sebuah kisah antara asmara dan amarah
Berakhir pertumpahan darah
Karena kekuasaan dan ambisi yang mengerah
Hingga seorang putri berkorban tanpa keluh kesah

Ki Ageng Mangir pembelot bagi Panembahan Senopati
Enggan tunduk di bawah pimpinan Mataram pertiwi
Tanah agung yang dihuni
Tetap dalam genggaman tak mau dikuasai

Senopati menyusun rencana apik
Agar Mangir tunduk dan tertarik
Menggoda keteguhan pembangkang tengik
Dengan rupa ayu dan senandung merdu Si Cantik

Pembayun menyerahkan sepenuh dirinya
Untuk Mangir yang memuja
Menikahlah mereka berdua
Membangun mahligai rumah tangga

Tibalah waktu yang ditunggu
Menghadiri acara unduh mantu
Mangir menghadap bersama pembuluh rindu
Bertemu mertua mengharap restu

Maka rencana Senopati terlaksana
Sang pembangkang telah hadir tanpa pusaka
Membuatnya begitu leluasa
Melancarkan amarah yang meraja

Maut dijemput saat badan menunduk lesu
Ajian telah dilucuti tanpa ragu
Mautpun merenggut nyawa Mangir dengan kelu
Nyawa melayang pada benturan batu



Rabu, 25 Oktober 2017

I Told You

Source pict https://i0.wp.com/lemon.hu/wp-content/uploads/2016/03/leonidafermov8


Sudah kukatakan padamu
kala itu
saat getir menyelinap pada bait kata kita
bahwa adakalanya tangan yang tak lagi bergandengan
akan membuat bahagia mengangkasa

Kau pura-pura baik-baik saja
padahal aku tahu
gemuruh di hatimu sama riuhnya denganku

Sudah kukatakan padamu
kala itu
bahwa pelangi datang beriringan
setelah hujan bertandang tanpa pesan

Usah kau bantah lagi
Karena akan selalu kukatakan padamu
berulang waktu

Aku mencinta walau tak lagi mendamba

26 Oktober 2017

Senin, 23 Oktober 2017

Kuizinkan


Kuizinkan kau pamit dari lamunanku
agar senyap merebak dan hati mengerti arti sepi

Candamu tak kan ada lagi
bahkan sekadar sapa
Tak akan kuminta

Berlalulah dari hadapanku
Tak mengapa
untuk apa hadirmu jika hanya mengeja luka

 Telah kuizinkan perih itu berlari
Menemukan tempatnya sendiri

Ruang kelas, 24 Oktober 2017

Rabu, 18 Oktober 2017

Tips Menangkal Malas Menulis di Blog






Blog sebagai media sosial sudah dikenal lama bahkan sebelum facebook dan instagram menjamur. Saya sendiri sudah lama mengenal blog, bahkan sejak masih SMA. Saat kuliah sempat punya satu akun blog yang saya isi dengan puisi dan curhatan gak jelas. Hihi. Karena lupa password, akhirnya blog itu pun terbengkalai. Tergerak membuat blog kembali saat menekuni kembali hobi menulis, berkumpul dengan blogger lain yang sudah lihai dan canggih. Maka lahirlah blog baru ini, yang isinya pun masih sebiji dua biji. 

Jujur, menulis di blog tak semudah dan seasyik di media sosial lain, seperti facebook, IG, atau twitter. Saya baru saja berjanji pada diri sendiri untuk lebih konsisten menulis di blog, agar blog yang saya miliki tidak terbengkalai lagi.

Agar konsistensi tersebut terwujud, maka ada beberapa tips yang dapat saya berikan, untuk menangkal rasa malas menulis di blog.
1. Buat jadwal, minimal seminggu sekali untuk mengisi blog yang kita miliki.
2. Catat ide yang terlintas untuk dikembangkan di tulisan lalu posting di blog.
3. Tanamkan bahwa blog adalah rumah yang mesti kita buat senyaman dan seindah mungkin, jadi selalu termotivasi untuk menghiasinya.
4. Saat hendak membuat status atau mengupload gambar di akun media sosial lain, alihkan saja untuk posting di blog. Setelahnya bisa kita share di facebook dll.
5. Rajin mengunjungi blog lain. Melihat tampilan dan postingan teman di blog mereka yang atraktif bisa menggugah kita untuk melakukan hal yang sama. 

Demikian beberapa tips yang bisa kita terapkan. Ini juga tips  buat diri saya sendiri sih, hehehe.

Selasa, 17 Oktober 2017

Doa Penjual Kerupuk Keliling di Pagi Hari


E,A Prihasti

Ya Tuhan, ampuni aku
aku merutuk kesal saat rintik gerimis membuka hari
kuhela napas panjang pertanda keluhan akan keadaan yang menjebakku

Hujan di pagi hari seperti ini adalah penghalangku menjajakan kerupuk di kampung-kampung yang biasa kutelusuri

Andai bisa kumohon padamu, Tuhan
turunkan hujan di sore hari saja
agar bisa kujajakan daganganku ini
bungkusan kerupuk yang menggunung tinggi
perantaraku mengais rezeki

Ampuni aku, Tuhan
yang mengutuk hujanMu
sementara petani menantikannya agar benih segera tumbuh di ladang-ladang yang mereka semai

Tuhan, ladang rezekiku pun perlu kusemai
agar periuk nasi terisi
agar surut kemelut istri yang mulai cemberut karena uang belanja yang menyusut

Tuhan, perkenankan aku meminta
berilah hari yang cerah esok hari
agar kerupukku menjelma rupiah lagi
agar senyum istriku mengembang kembali

Kabulkanlah, Tuhan
Aamiin

Joho, 18 Oktober 2017






Silver City


Rasanya tak sanggup kubuka mata saat Clay memberiku komando untuk bangun dari tidurku. Cahaya yang begitu menyilaukan membuat aku kesulitan melihat apa yang ada di hadapanku.
Aku telah sampai di Silver City, sebuah kota masa depan yang diimpikan sejak sekian dasawarsa. Proyek ini telah berhasil. Dan setelah perjalanan panjang yang membuatku tertidur begitu lama, akhirnya aku menjejakkan kaki di kota ini.

Gedung-gedung dengan gaya arsitektur minimalis dinamis menjulang tinggi berdampingan dengan sebuah taman kota yang didesain apik. Kendaraan berlalu lalang dengan teratur tanpa kemacetan. Tak ada sampah berserakan karena ada robot-robot yang bertugas 24 jam menjaga kebersihan. Lampu-lampu di tiap penjuru memancarkan cahaya yang mengenyahkan gulita.

Aku berdecak kagum, impian para petinggi telah tercapai. Tak sia-sia mereka meninggalkan desa kami dan membangun peradaban baru di sini. Tempat yang dulunya hanya berupa hamparan tanah tak terurus kini menjadi kota yang gemerlap.

Clay menuntunku menuju sebuah gedung yang paling besar di antara yang lain. Ia memang sudah lebih dulu berada di sini. Setelah aku setuju untuk meninggalkan keluargaku, akhirnya aku pun mengikutinya untuk menghuni kota impian ini.

"Clay, izinkan aku menelpon ibuku dulu. Kurasa ia sedang menantikan kabarku. Aku akan mengatakan padanya kalau aku baik-baik saja, tidak seperti yang mereka khawatirkan," ujarku.

Clay bergeming. Tak ada ekspresi apa pun. Sejak menghuni kota ini, ia memang menjadi agak pendiam.
Ia mengambil ponselku dan melakukan hal yang tidak kuduga. Membantingnya. Aku membeliak.

"Hei, apa yang kau lakukan?" teriakku dengan kencang.

 Aku menggapai tubuhnya, menarik saku di kemejanya, berharap kutemukan ponsel di sana. Namun aku terkejut, saat tanganku tak sengaja merobek bajunya, kulihat seonggok mesin bersarang di dadanya. Aku terkesiap. Spontan kututup mulutku, tak percaya dengan apa yang kulihat.

"Tak perlu kaget. Kau yang selanjutnya," ucapnya singkat sambil menyeretku dengan paksa, tak peduli seberapa kencang aku berteriak.

Beberapa orang keluar dari sebuah ruangan. Mereka menjagalku bersamaan dengan suara yang berasal dari pengeras di sudut ruangan.

"On Process. Perakitan Robot Silver C230 akan segera dilakukan."

Kamis, 12 Oktober 2017

Writer and Author Group

Setelah lolos pada 30 Days Writing Challenge #session2 pada pertengahan Mei lalu, saya masuk di sebuah WAG yang merupakan ruang baru bagi sepuluh besar pemenang di 30DWC. Di sana saya juga bertemu dan berkumpul dengan sepuluh besar di sesi sebelumnya. Hingga saat ini tercatat sudah ada empat  angkatan 30DWC yang tergabung. Maka berarti ada kurang lebih 40 orang dalam grup tersebut.

WAG ini layaknya sebuah ruang yang hangat. Semua penghuninya ramah dan tak segan berbagi ilmu. Setiap hari ada materi kepenulisan yang saya dapat dengan gratis. Setiap hari ada teman yang siap mendengarkan keluh kesah salah satu di antara mereka yang mungkin sedang dalam kegelisahan.

Mereka saling menguatkan dan mengingatkan. Bergandeng tangan dan saling merengkuh saat salah satu merasa rapuh. Bersama-sama mengejar mimpi untuk menjadi penulis yang menebar kebaikan.

WnA adalah keluarga, yang mendamaikan walau tak pernah bertatap muka.

Senin, 02 Oktober 2017

Dua Bidadari

E.A. Prihasti

Gilang mengurut pelipis. Kepalanya berdenyut saat ia ingat kembali perkara yang sudah tiga hari ini membuat tidur tak nyenyak makan pun tak enak. Ibunya ingin agar Gilang dan istri pindah ke kediamannya, menemani sang ibu yang kini tinggal sendiri setelah adik perempuan Gilang satu-satunya, mengikuti suami tinggal di Kalimantan. Sementara itu, Kania istrinya bersikeras tetap tinggal di rumah yang mereka huni sejak menikah.

Gilang tak ingin membiarkan ibunya kesepian, namun ia juga tidak bisa egois memaksakan kehendak pada Kania. Gilang tahu Kania punya alasan kuat untuk menolak keinginan itu. Ia harus menempuh jarak dua kali lebih jauh ke kantornya jika mereka mesti pindah. 

“Kania kan bisa bawa mobil sendiri, kamu beliin aja. Kalo nyetir sendiri kan enak, bisa memperkirakan waktu sampai di kantor jam berapa,” ujar ibunya mencoba meyakinkan Gilang kembali.
“Kania lebih suka naik kendaraan umum, Bu. Toh nambah mobil juga belum masuk list prioritas kami,” timpal Gilang dengan sedikit gusar. Ia takut ada kalimat yang akan menyinggung perasaan ibunya.
“Kamu lebih suka melihat ibu kesepian ya?” Kalimat ibunya begitu menohok hati Gilang. Ia semakin kebingungan.

Gilang melepas kacamata, kemudian menarik selimutnya sampai ke dada. Ia melirik Kania yang masih asyik memandangi layar gawai dan sesekali tersenyum. Kania paham suaminya sedang galau. Ia mengalihkan pandangan ke wajah Gilang.

“Masih soal ibu?” tanya Kania penuh selidik. Suaminya mengangguk.
“Mas bujuk ibu aja biar tinggal di sini. Kan gak bakalan kesepian lagi. Fero juga bakalan seneng ditemenin eyangnya.” Kania menawarkan solusi lain.
“Aku dah pernah bilang gitu, tapi ibu gak mau. Gak tega ninggalin rumah peninggalan bapak.” Gilang terpaku, seakan menemui jalan buntu.
“Mas sendiri gimana, cenderung setuju sama pendapat siapa, ibu atau aku. Maksudku, menurut pertimbangan Mas Gilang, mana yang lebih membuat Mas nyaman? Kita pindah ke rumah ibu, atau ibu yang pindah ke sini? Mungkin kalau Mas punya opini lain, aku dan ibu bisa berpikir ulang dengan pendapat masing-masing.”  Kania memberikan ruang bagi Gilang untuk mempertimbangkan masalah ini dari sisi Gilang sendiri. 

Gilang hanya terdiam. Mencoba mengurai masalah agar segera menjumpai titik temunya. Dia tahu, ibu dan istrinya tidak berniat menyusahkan. Mereka adalah perempuan yang paling menyayangi dirinya. Gilang memejamkan mata, berharap besok ia menemui jalan keluar.

Aroma kopi mengepul dari ruang makan. Gilang berjalan menghampiri Kania yang sedang menyiapkan sarapan mereka. Fero juga tengah bersiap berangkat sekolah.

“Nia, soal Ibu aku dah putusin, kita beli mobil lagi aja ya, buat kamu. Biar kalo kita pindah ke rumah ibu, kamu gak perlu repot sewa ojek atau taksi online lagi buat ke kantor.” Gilang bicara dengan hati-hati, berharap Kania menyetujui keputusannya. Membeli mobil baru awalnya memang bukan prioritas, tapi masalah ini membutuhkan solusi.

Kania menyodorkan segelas kopi pada Gilang sambil menyahut, “Aku baru mau bilang, Mas. Barusan aku dapet info dari atasanku, bulan depan aku dimutasi ke kantor cabang dan lokasinya deket rumah Ibu.”
Gilang hampir tersedak. “Beneran?” tanyanya seolah tak percaya.

“Gak pusing lagi kan? Aku juga lega nih. Gak bikin Mas jadi anak durhaka.” Kania tergelak. Gilang memeluk istrinya. Ia semringah membayangkan senyum bahagia ibunya. Sampai kapan pun ia tak kan tega membuat ibu dan Kania terluka, dua bidadari yang merupakan anugerah terbaik dalam hidupnya.

Gurindam

kalau kau hendak selamat  bekali diri dengan salihat jika dirimu sedang seteru ingat lidah setajam sembilu andai amarah mu...