Selasa, 31 Oktober 2017
Tentang Memaafkan
Minggu, 29 Oktober 2017
Sekar Pembayun
Sebuah kisah antara asmara dan amarah
Berakhir pertumpahan darah
Karena kekuasaan dan ambisi yang mengerah
Hingga seorang putri berkorban tanpa keluh kesah
Ki Ageng Mangir pembelot bagi Panembahan Senopati
Enggan tunduk di bawah pimpinan Mataram pertiwi
Tanah agung yang dihuni
Tetap dalam genggaman tak mau dikuasai
Senopati menyusun rencana apik
Agar Mangir tunduk dan tertarik
Menggoda keteguhan pembangkang tengik
Dengan rupa ayu dan senandung merdu Si Cantik
Pembayun menyerahkan sepenuh dirinya
Untuk Mangir yang memuja
Menikahlah mereka berdua
Membangun mahligai rumah tangga
Tibalah waktu yang ditunggu
Menghadiri acara unduh mantu
Mangir menghadap bersama pembuluh rindu
Bertemu mertua mengharap restu
Maka rencana Senopati terlaksana
Sang pembangkang telah hadir tanpa pusaka
Membuatnya begitu leluasa
Melancarkan amarah yang meraja
Maut dijemput saat badan menunduk lesu
Ajian telah dilucuti tanpa ragu
Mautpun merenggut nyawa Mangir dengan kelu
Nyawa melayang pada benturan batu
Rabu, 25 Oktober 2017
I Told You
Sudah kukatakan padamu
kala itu
saat getir menyelinap pada bait kata kita
bahwa adakalanya tangan yang tak lagi bergandengan
akan membuat bahagia mengangkasa
Kau pura-pura baik-baik saja
padahal aku tahu
gemuruh di hatimu sama riuhnya denganku
Sudah kukatakan padamu
kala itu
bahwa pelangi datang beriringan
setelah hujan bertandang tanpa pesan
Usah kau bantah lagi
Karena akan selalu kukatakan padamu
berulang waktu
Aku mencinta walau tak lagi mendamba
26 Oktober 2017
Senin, 23 Oktober 2017
Kuizinkan
Kuizinkan kau pamit dari lamunanku
agar senyap merebak dan hati mengerti arti sepi
Candamu tak kan ada lagi
bahkan sekadar sapa
Tak akan kuminta
Berlalulah dari hadapanku
Tak mengapa
untuk apa hadirmu jika hanya mengeja luka
Telah kuizinkan perih itu berlari
Menemukan tempatnya sendiri
Ruang kelas, 24 Oktober 2017
Rabu, 18 Oktober 2017
Tips Menangkal Malas Menulis di Blog
Selasa, 17 Oktober 2017
Doa Penjual Kerupuk Keliling di Pagi Hari
E,A Prihasti
Ya Tuhan, ampuni aku
aku merutuk kesal saat rintik gerimis membuka hari
kuhela napas panjang pertanda keluhan akan keadaan yang menjebakku
Hujan di pagi hari seperti ini adalah penghalangku menjajakan kerupuk di kampung-kampung yang biasa kutelusuri
Andai bisa kumohon padamu, Tuhan
turunkan hujan di sore hari saja
agar bisa kujajakan daganganku ini
bungkusan kerupuk yang menggunung tinggi
perantaraku mengais rezeki
Ampuni aku, Tuhan
yang mengutuk hujanMu
sementara petani menantikannya agar benih segera tumbuh di ladang-ladang yang mereka semai
Tuhan, ladang rezekiku pun perlu kusemai
agar periuk nasi terisi
agar surut kemelut istri yang mulai cemberut karena uang belanja yang menyusut
Tuhan, perkenankan aku meminta
berilah hari yang cerah esok hari
agar kerupukku menjelma rupiah lagi
agar senyum istriku mengembang kembali
Kabulkanlah, Tuhan
Aamiin
Joho, 18 Oktober 2017
Silver City
Rasanya tak sanggup kubuka mata saat Clay memberiku komando untuk bangun dari tidurku. Cahaya yang begitu menyilaukan membuat aku kesulitan melihat apa yang ada di hadapanku.
Aku telah sampai di Silver City, sebuah kota masa depan yang diimpikan sejak sekian dasawarsa. Proyek ini telah berhasil. Dan setelah perjalanan panjang yang membuatku tertidur begitu lama, akhirnya aku menjejakkan kaki di kota ini.
Aku berdecak kagum, impian para petinggi telah tercapai. Tak sia-sia mereka meninggalkan desa kami dan membangun peradaban baru di sini. Tempat yang dulunya hanya berupa hamparan tanah tak terurus kini menjadi kota yang gemerlap.
Clay menuntunku menuju sebuah gedung yang paling besar di antara yang lain. Ia memang sudah lebih dulu berada di sini. Setelah aku setuju untuk meninggalkan keluargaku, akhirnya aku pun mengikutinya untuk menghuni kota impian ini.
"Clay, izinkan aku menelpon ibuku dulu. Kurasa ia sedang menantikan kabarku. Aku akan mengatakan padanya kalau aku baik-baik saja, tidak seperti yang mereka khawatirkan," ujarku.
Clay bergeming. Tak ada ekspresi apa pun. Sejak menghuni kota ini, ia memang menjadi agak pendiam.
Ia mengambil ponselku dan melakukan hal yang tidak kuduga. Membantingnya. Aku membeliak.
"Hei, apa yang kau lakukan?" teriakku dengan kencang.
Aku menggapai tubuhnya, menarik saku di kemejanya, berharap kutemukan ponsel di sana. Namun aku terkejut, saat tanganku tak sengaja merobek bajunya, kulihat seonggok mesin bersarang di dadanya. Aku terkesiap. Spontan kututup mulutku, tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Tak perlu kaget. Kau yang selanjutnya," ucapnya singkat sambil menyeretku dengan paksa, tak peduli seberapa kencang aku berteriak.
Beberapa orang keluar dari sebuah ruangan. Mereka menjagalku bersamaan dengan suara yang berasal dari pengeras di sudut ruangan.
"On Process. Perakitan Robot Silver C230 akan segera dilakukan."
Kamis, 12 Oktober 2017
Writer and Author Group
Setelah lolos pada 30 Days Writing Challenge #session2 pada pertengahan Mei lalu, saya masuk di sebuah WAG yang merupakan ruang baru bagi sepuluh besar pemenang di 30DWC. Di sana saya juga bertemu dan berkumpul dengan sepuluh besar di sesi sebelumnya. Hingga saat ini tercatat sudah ada empat angkatan 30DWC yang tergabung. Maka berarti ada kurang lebih 40 orang dalam grup tersebut.
WAG ini layaknya sebuah ruang yang hangat. Semua penghuninya ramah dan tak segan berbagi ilmu. Setiap hari ada materi kepenulisan yang saya dapat dengan gratis. Setiap hari ada teman yang siap mendengarkan keluh kesah salah satu di antara mereka yang mungkin sedang dalam kegelisahan.
Mereka saling menguatkan dan mengingatkan. Bergandeng tangan dan saling merengkuh saat salah satu merasa rapuh. Bersama-sama mengejar mimpi untuk menjadi penulis yang menebar kebaikan.
WnA adalah keluarga, yang mendamaikan walau tak pernah bertatap muka.
Senin, 02 Oktober 2017
Dua Bidadari
Gurindam
kalau kau hendak selamat bekali diri dengan salihat jika dirimu sedang seteru ingat lidah setajam sembilu andai amarah mu...


